Tesiajie's Blog

03. INPUT DEVICE

1. MOUSE

Sejarah Mouse

Mouse, atau yang dalam bahasa Indonesianya disebut tetikus, sering kita gunakan sehari-hari. Ternyata, banyak perkembangan mouse dari awal mulanya dibuat hingga mouse canggih yang
sangat populer saat ini.
Mouse pertama ditemukan oleh Douglas Engelbart dari Stanford Research Institute pada tahun 1963.Mouse adalah satu dari beberapa alat penunjuk (pointing device) yang dikembangkan untuk oN Line System (NLS) milik Engelbard. Selain mouse, yang pada mulanya disebut “bug”, juga dikembangkan beberapa alat pendeteksi gerakan tubuh yang lain, misalnya alat yang diletakkan di kepala untuk mendeteksi gerakan dagu. Karena kenyamanan dan kepraktisannya, mouse-lah yang dipilih.
Mouse pertama berukuran besar, dan menggunakan dua buah roda yang saling tegak lurus untuk mendeteksi gerakan ke sumbu X dan sumbu Y. Engelbart kemudian mematenkannya pada 17 November 1970, dengan nama Penunjuk posisi X-Y untuk sistem tampilan grafis (X-Y Position Indicator For A Display System). Pada waktu itu, sebetulnya Engelbart bermaksud pengguna memakai mouse dengan satu tangan secara terus-menerus, sementara tangan lainnya
mengoperasikan alat seperti keyboard dengan lima tombol.
MOUSE BOLA
Perkembangan selanjutnya dilakukan oleh Bill English di Xerox PARC pada awal tahun 1970. Ia menggunakan bola yang dapat berputar kesegala arah, kemudian putaran bola tersebut dideteksi oleh roda-roda sensor didalam mouse tersebut. Pengembangan tipe ini kemudian melahirkan mouse tipe Trackball, yaitu jenis mouse terbalik dimana pengguna menggerakkan bola dengan jari, yang populer antara tahun 1980 sampai 1990. Xerox PARC juga mempopulerkan penggunaan keyboard QWERTY dengan dua tangan dan menggunakan mouse pada saat dibutuhkan saja.
Mouse saat ini mengikuti desain École polytechnique fédérale de Lausanne (EPFL) yang diinspirasikan oleh Professor Jean-Daniel Nicoud. Beberapa paten desain mouse (dari kiri ke kanan): Buatan mouse buatan Engelbard, mouse bola dengan 4 roller oleh Rider, dan mouse bola dengan 2 roller dan sebuah pegas oleh Opocentsky (seperti pada mouse bola saat ini).
MOUSE OPTIKAL
Selain mouse bola, saat ini banyak digunakan mouse optikal. Mouse optikal lebih unggul dari mouse bola karena lebih akurat dan perawatannya lebih mudah dibandingkan mouse bola. Mouse optikal tidak perlu dibersihkan, berbeda dengan mouse bola yang harus sering dibersihkan karena banyak debu yang menempel pada bolanya. Mouse optikal pertama dibuat oleh Steve Kirsch dari Mouse Systems Corporation. Mouse jenis ini menggunakan LED (light emitting diode) dan photo dioda untuk mendeteksi gerakan mouse. Mouse optikal pertama hanya dapat digunakan pada alas (mousepad) khusus yang berwarna metalik bergaris-garis biru–abu-abu. Mouse optikal saat ini dapat digunakan hampir di semua permukaan padat dan rata, kecuali permukaan yang memantulkan cahaya. Mouse optikal saat ini bekerja dengan menggunakan sensor optik yang menggunakan LED sebagai sumber penerangan untuk mengambil beribu-ribu frame gambar selama mouse bergerak. Perubahan dari frame-frame gambar tersebut diterjemahkan oleh chip khusus menjadi posisi X dan Y yang kemudian dikirim ke komputer.
MOUSE LASER
Mouse laser pertama kali diperkenalkan oleh Logitech, perusahaan mouse terkemuka yang bekerja sama dengan Agilent Technologies pada tahun 2004, dengan nama Logitech MX 1000. Logitech mengklaim bahwa mouse laser memilki tingkat akurasi 20 kali lebih besar dari mouse optikal. Dasar kerja mouse optikal dan mouse laser hampir sama, perbedaannya hanya penggunaan laser kecil sebagai pengganti LED digunakan oleh mouse optikal. Saat ini mouse laser belum banyak digunakan, mungkin karena harganya yang masih mahal. Dari semua perkembangan mouse, yang tidak banyak berubah adalah jumlah tombolnya. Semua mouse memiliki tombol antara satu sampai tiga buah. Mouse pertama memiliki satu tombol. Kebanyakan mouse saat ini, yang didesain untuk Microsoft Windows, memiliki dua tombol. Beberapa mouse modern juga memiliki sebuah Wheel untuk mempermudah scrolling. Sementara itu, Apple memperkenalkan mouse satu tombol, yang tidak berubah hingga kini. Mouse modern juga sudah banyak yang tanpa kabel, yaitu menggunakan teknologi wireless seperti Infra Red, gelombang radio ataupun Bluetooth. Mouse wireless yang populer saat ini menggunakan gelombang radio ataupun Bluetooth. Sedangkan mouse yang menggunakan Infra Red kurang begitu populer karena jarak jangkauannya yang terbatas, selain itu juga kurang praktis karena antara mouse dan penerimanya tidak boleh terhalang.

Mouse sering sekali diabaikan. Umumnya pembeli hanya memilih jenis mouse ketimbang melihat lebih jauh kecepatan dan sensitivitas mous itu sendiri. Padahal dua hal ini sangat mempengaruhi ketepatan mouse. Nilai yang dicari oleh pelaku desainer dan para gamer.

Optic
Yang disebut mouse optical adalah mouse yang menggunakan sensor cahaya serta lampu LED merah di bawahnya sebagai pencahaya. Sensor pada mouse optical mampu menangkap gambar dengan kecepatan 1500 frame per detik sampai 7000 frame per detik. Dengan kecepatan mencapai 45 inci per detik dengan resolusi 2000 count per inci (cpi).

Mouse ini dinyatakan memiliki nilai presisi yang lebih baik ketimbang mouse yang menggunakan mekanik. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Untuk kelas yang sama, mouse optical tidaklah lebih presisi. Yang memang memiliki nilai presisi yang tinggi harganya saat ini masih terbilang mahal. Sedangkan, mouse optical yang umum dijual tidak memiliki kecepatan dan nilai presisi yang lebih baik ketimbang mouse biasa. Dan keterangan ini sering diabaikan oleh si produsen. Coba saja Anda perhatikan boks mouse yang Anda beli, pernahkah ada keterangan kecepatan dan tingkat sensitivitas mouse? Hanya sedikit sekali yang meletakkan keterangan-keterangan itu. Dan umumnya yang meletakkan keterangan-keterangan tersebut adalah mouse-mouse produksi perusahaan-perusahaan besar.

Berbeda dengan mouse trackball yang  sulit jalan ditempat yang terlalu licin. Oleh sebab itu, mouse ini membutuhkan sebuah landasannya sendiri yang dinamakan mouse pad. Berbeda dengan mouse optical yang cenderung lebih baik bekerja dipermukaan yang mulus dan dengan warna yang cenderung gelap. Mouse optical sulit dijalankan pada permukaan yang putih polos.

Berbeda dengan mouse mekanik yang sulit jalan di tempat yang terlalu licin, mouse optical dapat digunakan hampir pada seluruh jenis permukaan. Asalkan permukaan tersebut tidak transparan atau terlalu glossy.

Mouse optic juga membutuhkan arus yang lebih besar ketimbang mouse bola atau mekanis biasa. Lima kali lebih besar arus yang dibutuhkan untuk menggerakan mouse ini
(25 mA). Ini artinya bila Anda menggunakan mouse wireless optical Anda akan lima kali
lebih sering mengganti baterai ketimbang menggunakan mouse mekanik yang menggunakan bola.

Cara kerja mouse optical adalah sebagai berikut: lampu LED menembarkan cahayanya pada permukaan lalu, sensor cahaya yang ada pada bagian bawah mouse akan menangkap pergeseran yang terjadi pada cahaya tersebut. Atau dapat juga dikatakan sebagai berikut. Bila mouse mekanik komputer mencatat pergeseran yang dilakukan oleh mouse, sebaliknya dengan mouse optical, komputer mencatat pergeseran yang terjadi pada landasan mouse.

Untuk lebih jelasnya perhatikan pada gambar. Bagaimana sebuah sensor mampu menangkap setiap kali adanya perubahan gambar atau pola. Berkaitan dengan pola, hal inilah yang menyebabkan kenapa mouse optical sulit mendeteksi permukaan yang transparan dan glossy seperti kaca atau papan whiteboard.

Mouse Laser
Perkembangan mouse optical kini sudah jauh lebih murah ketimbang waktukali pertama diperkenalkannya. Perlahan-lahan kehadiran mouse optical sudah dinilai sangat umum. Kini ada satu mouse lagi yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Kerjanya hampir sama dengan mouse optical hanya saja bila pada mouse optical biasa menggunakan  ampu LED, maka pada mouse laser, bukan lagi sinar LED yang digunakan, melainkan sinar laser. Hal ini membuat ketajaman gambar yang ditangkap oleh sensor menjadi lebih baik. Jika pada permukaan glossy seperti papan whiteboard mouse optical dengan lampu LED-nya sulit membedakan setiap tampilan permukaan, sebaliknya dengan laser, permukaan tidak lagi menjadi sama, melainkan berstruktur atau berpola.

Mouse ini kali pertama diperkenalkan tahun 2004 oleh Logitech yang bekerja sama dengan Agilent Technologies dalam pengembangannya. Teknologi baru ini diklaim mampu memiliki ketepatan 20x kali lebih baik dari mouse optical. Hanya saja harga laser mouse sampai saat ini masih tergolong sangat mahal. Kini, selain Logitech, Microsoft juga ikut meluncurkan mouse berbasiskan teknologi laser ini.

Single Click dan Scroll
Dari sejak awal diperkenalkan, fungsi mouse tidak hanya sebagai penunjuk arah saja. Tetapi, juga sudah berfungsi sebagai input device. Oleh sebab itu, mouse sejak pertama kali diperkenalkan sudah memiliki sebuah tombol.

Waktu kali pertama, memang hanya ada satu tombol yang melengkapinya. Namun kini seiring majunya teknologi pada mouse, tidak hanya tombol saja yang bertambah pada mouse, ada beberapa hal lain yang kini juga telah melengkapi mouse. Di antaranya scroll button atau tombol scroll, efek getar, dan masih banyak lagi. Bahkan dari segi keamanan kini juga sudah banyak mouse yang dilengkapi dengan sidk jari.

Tombol yang ada pada mouse memiliki berbagai macam fungsi. Untuk fungsi yang paling umum biasanya terletak pada tombol di sebelah kiri. Sedangkan, untuk fungsi tambahan biasanya terletak disebelah kanan. Scroll mouse banyak dipergunakan untuk melihat sebuah dokumen yang panjang, ke bawah. Sedangkan tombol yang lebih banyak dari itu umumnya sangat terasa manfaatnya bila sedang digunakan untuk bermain games. Misalnya saja untuk mengganti senjata, untuk melihat peta, dan sebagainya. Sedangkan pada kebutuhan sehari-hari tombol-tombol tersebut dapat saja diatur untuk memenuhi kebutuhan lain.

Mouse pada aplikasi permainan memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda dengan joystick. Kadang sama seperti halnya joystick yang dilengkapi dengan efek getar.

Tidak hanya fasilitas yang beragam bentuk mouse juga sangat beragam. Mulai dari yang sangat kecil (setengah besar telur ayam negeri) sampai sangat besar genggaman telapak tangan. Bahkan ada juga yang berbentuk sangat mirip menyerupai joystick. Sebenarnya apapun bentuk mouse harus disesuaikan dengan kenyamanan penggunanya. Untuk presentasi banyak sekali para pebisnis yang menggunakan trackball wireless yang bentuknya sangat nyaman dalam genggaman seperti layaknya sebuah remote atau joystick.

Mouse


Mouse adalah perangkat yang berfungsi menggerakan pointer,menunjukan perintah atau program pada layar monitor.Pada mouse terdapat klikan kiri dan klikan kanan.Pada klik kiri 1x berfungsi untuk memilih menu atau icon dan klik kiri 2x untuk membuka menu yang dituju.

Jenis-jenis mouse:

Mouse Serial

mouse serial

Mouse yang sudah jarang dipakai oleh masyarakat umum.Biasanya mouse ini digunakan pada computer Pentium 1 dan Pentium 2.

Mouse PS/2

mouse ps-2

Mouse yang digunakan pada computer Pentium 3 dan Pentium 4.

Mouse USB

mouse usbMouse yang sudah umum digunakan oleh masyarakat luas.Digunakan pada computer Pentium 3 dan 4.

Mouse Wirelless

mouse wirelessMouse terbaru tanpa kabel.Kini Mouse Wireless sudah meluas dikalangan masyarakat.

Mouse Optic

mouse opticMouse ini tidak menggunakan bola untuk menunjuk pointer melainkan menggunakan sinar laser yang berwarna-warni.

Keyboard Apakah Keyboard Itu ?

Penciptaan keyboard komputer di ilhami oleh penciptaan mesin ketik yang dasar rancangannya di buat dan di patenkan oleh Christopher Latham pada tahun 1868 dan banyak dipasarkan pada tahun 1877 oleh Perusahaan Remington. Keyboard komputer pertama disesuaikan dari kartu pelubang (punch card) dan teknologi pengiriman tulisan jarak jauh (Teletype). Tahun 1946 komputer ENIAC menggunakan pembaca kartu pembuat lubang (punched card reader) sebagai alat input dan output.

Bila mendengar kata “keyboard” maka pikiran kita tidak lepas dari adanya sebuah komputer, karena keyboard merupakan sebuah papan yang terdiri dari tombol-tombol untuk mengetikkan kalimat dan simbol-simbol khusus lainnya pada komputer. Keyboard dalam bahasa Indonesia artinya papan tombol jari atau papan tuts. Pada keyboard terdapat tombol-tombol huruf A – Z, a – z, angka 0 – 9, tombol dan karakter khusus seperti : ` ~ @ # $ % ^ & * ( ) _ – + = < > / , . ? : ; “ ‘ \ | serta tombol-tombol khusus lainnya yang jumlah seluruhnya adalah 104 tuts. Sedangkan pada Mesin ketik jumlah tutsnya adalah 52 tuts. Bentuk keyboard umumnya persegi panjang, tetapi saat ini model keyboard sangat variatif.

Dahulu orang banyak yang menggunakan mesin ketik baik yang biasa maupun mesin ketik listrik. Nah, keyboard mempunyai kesamaan bentuk dan fungsi dengan mesin ketik. Perbedaannya terletak pada hasil output atau tampilannya. Bila kita menggunakan mesin ketik, kita tidak dapat menghapus atau membatalkan apa-apa saja yang sudah ketikkan dan setiap satu huruf atau simbol kita ketikkan maka hasilnya langsung kita lihat pada kertas. Tidak demikian dengan keyboard. Apa yang kita ketikkan hasil atau keluarannya dapat kita lihat di layar monitor terlebih dahulu, kemudian kita dapat memodifikasi atau melakukan perubahan-perubahan bentuk tulisan, kesalahan ketikan dan yang lainnya. Seperti juga “mouse”, keyboard dihubungkan ke komputer dengan sebuah kabel yang terdapat pada keyboard. Ujung kabel tersebut dimasukkan ke dalam port yang terdapat pada CPU komputer.

Sejarah Keyboard Komputer

Sejarah Keyboard Komputer

span.fullpost {display:none;} Keyboard merupakan alat input standar yang sangat esensial pada sebuah PC. Tahukah Anda kapan keyboard atau papan ketik pertama kali ditemukan??? Jawabannya adalah pada tahun 1864 yang kemudian dipatenkan oleh Christopher Latham Sholes pada 1868. Keyboard yang kita kenal sekarang ini memiliki nama resmi Qwerty yang di ambil dari enam huruf pertama pada “Home Row“. Home Row sendiri merupakan istilah untuk deretan alfabet kedua (posisinya di tengah) keyboard. Dideretan inilah seharusnya user atau juru ketik menempatkan jari-jarinya jika sedang tidak mengetik.

Lalu, kenapa tombol-tombol alfabet pada keyboard ditempatkan secara acak??? Alasannya adalah untuk memperlambat pengetikan. Kenapa??? Pada awalnya mesin ketik dibuat senyaman mungkin untuk penggunanya, tetapi akibatnya, para pengguna malah dapat mengetik dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat pengait-pengait karakter pada mesin ketik menjadi sering tersangkut.

Setelah beberapa bulan mencari cara untuk mengatasi sering menyangkutnya pengait tersebut, Sholes mengacak posisi alfabet pada mesin ketik seperti sekarang ini. Dan setelah teknologi mesin ketik berkembang ke mesin ketik elektrik sampai ke komputer, urutan alfabet yang acak tersebut tetap digunakan.

Untuk komputer, keyboard pertama kali digunakan pada tahun 1964. Sebuah perangkat yang dibuat oleh MIT, Bell Laboratories, dan General Electric yang disebut Mulitics berhasil menggabungkan video display terminal (Monitor CRT saat ini) dengan mesin ketik elektrik. Layout Qwerty temuan Christopher Latham Sholes tetap digunakan, meski pada keyboard saat ini, sejumlah function keys sudah diimplementasikan.

3.JOYSTICK

BASIC SETTINGS

Pertama, dari yang basic dulu (buat rekan2 yang baru ‘beralih’ ke joystick/yoke … hehehe)
Setelah joystick terpasang, sebaiknya kalibrasi dulu menggunakan software/utility bawaan joystick tersebut. Kalo gak ada, gunakan utility bawaan Windows ( CONTROL PANEL > GAME CONTROLLERS ), pilih PROPERTIES – SETTINGS, ikuti petunjuk Device Calibration Wizard tsb.

Pada waktu meng-kalibrasi, tahan posisi joystick di masing2 tyitik maksimum deflection-nya (kiri-kanan-atas-bawah) selama 3-4 detik. Ini gunanya untuk meminimalkan noise/spike akibat device-polling routine. Dengan noise minimal, raw-value DirectInput-nya bisa ter-register dengan lebih sempurna.

Setelah beres mengkalibrasi, jalankan FS seperti biasa. Load pesawat Cessna 172 default-nya kemudian switch ke Virtual Cockpit View (S-key). Adjust view-nya (gunakan Hat-switch joystick) hingga tampilan yoke-nya terlihat. Kemudian coba sentuh sedikit joystick dan bandingkan dengan gerakan yoke di layar monitor. Kalo joystick belum disentuh tapi tampilan yoke udah bergerak liar; berarti setingan dead-zone/null zone joystick perlu ditambah. (** deadzone = posisi dimana joystick ‘seharusnya’ tidak meberikan output apapun / null value)

Gerakkan joystick secara perlahan ke posisi maximum deflection (mentok kiri-kanan-atas-bawah) sambil lihat pergerakan yoke di monitor apakah sinkron dengan posisi joystick. Kalo misalnya joystick baru digerakkan 50% dari posisi maksimum tapi gambar yoke udah muter 90° mentok, berarti setingan joystick tsb over-sensitive. Demikian pula hal sebaliknya.

Adjust sensitivity & deadzone melalui menu OPTIONS – CONTROLS – SENSITIVITIES – JOYSTICK

Akan muncul tampilan “CONTROLS SENSITIVITIES“, disitu ada option SIMPLE dan ADVANCED. Pilihan SIMPLE untuk merobah setingan semua axis (X,Y,Z dst) joystick tsb secara bersamaan dengan value yang sama. Sedangkan ADVANCED bila ingin mengadjust seting masing masing axis secara terpisah, misalnya X/Aileron ingin dibikin lebih sensitif daripada Y/Elevator (*typical setting biasanya seperti ini).

Atur setingan sesuai feeling dan kemauan aja; yang penting nyaman dipake nerbangin. Gak ada rumus/ aturan baku setingan sensitivitas ini mesti segimana karena tergantung selera (flying-style?) dan jenis pesawat apa yang dipake. it’s a personal preference. — gimana enaknya aja. Merk & tipe joystick juga berpengaruh, ada yang potentiomenter-nya sensitif ada yang nggak (***yang merek dan tipenya sama sama aja kadang angular value pots-nya bisa beda …)

Kalo sering ganti-ganti pesawat, mesti rajin juga nge-check & adjust sensitivity joysticknya karena bisa aja setingan yang udah pas di pesawat-A belom tentu pas buat nerbangin pesawat-B. Apalagi beberapa add-on mempunyai specific sensitivity setting yang hard-coded pada .AIR file atau bahkan pada .MDL filenya dengan merobah control-response parameter untuk mencapai dynamic & inertia yang pas pada FDE-nya.

Untuk merobah joystick’s buttons atau axis-assignment, akses melalui menu OPTIONS – CONTROLS – ASSIGNMENTS ..

Pilih tab BUTTONS/KEYS untuk merobah keyboard & joystick buttons sesuai fungsi FS yang diinginkan. Pilih tab JOYSTICK AXES untuk merobah axis assignment sesuai fungsi spesifik sesuai keinginan. Select function assignment yang ingin dirobah kemudian gerakkan joystick pada sumbu/axis yang akan di-assign (mis. select ELEVATOR AXIS – CHANGE ASSIGNMENTS – gerakkan stick ke kiri/kanan – OK). Begitu juga untuk KEYS/BUTTONS assignments.

ADVANCED SETTINGS

Pada kondisi default FS (note: sejak FS2000), joystick input diproses secara NON-LINEAR, dimana raw-value joystick disampling kemudian dikalkulasikan secara eksponensial sebagai DirectInput value (16-bit, 0-65535). Sensitivity slider pada panel CONTROLS SENSITIVITIES digunakan untuk merubah besaran eksponen tsb; jadi kalo kita adjust, bentuk lengkung kurva saja yang berubah sedangkan range/jarak antara kedua titik defleksi maksimumnya-nya tetap sama.

Bila kita set sensitivity 50%, kurva tersebut ‘nyaris’ menyerupai garis diagonal dan sensifitas-nya ‘seakan-akan‘ menjadi LINEAR. Bila kita set 0% kurvanya menjadi landai; sehingga kalo kita gerakin joystick-nya dari posisi centeringnya semakin jauh/semakin mendekati titik defleksi maksimum, joystick menjadi semakin sensitif. Dan kalo kita set 100% , kurvanya menjadi curam; joystick kita gerakin dikit aja control-surfaces langsung ‘lincah’ geraknya dan semakin mendekati defleksi maksimumnya, berangsur-angsur semakin nge-lag. (gak responsif)

Masuk ke menu OPTIONS – CONTROLS – SENSITIVITIES – JOYSTICK untuk meng-adjust kembali sensitivitas joystick/yoke.
Pada mode linear, sensitivity slider berubah fungsi menjadi “range-limiter” untuk mengatur jarak antara kedua titik defleksi dimana minimum & maximum DirectInput value akan diperoleh. (*lihat gambar diatas)

Pada setting sensitivitas 100%, maksimum DirectInput value (65535) akan diperoleh kalo joystick kita gerakkan full-kanan-mentok (sumbu-X) dan minimum value (0) pada posisi full-mentok kiri. Sedangkan pada setingan sensitivitas 50%, berarti kita cukup menggerakkan joystick ‘setengah‘-nya saja untuk mencapai minimum ataupun maksimum value-nya. Setting sensitivity makin kecil (slider digeser kekiri) berarti range makin sempit dan spacing-nya semakin rapat; sehingga ‘seakan-akan’ joystick menjadi lebih sensitive.

Enaknya menggunakan linear-sensitivity seperti ini karena lebih gampang memprediksi gerakan/posisi joystick yang diperlukan serta spacing yang konstan/merata. Sedangkan pada exponential-sensitivity, agak susah memprediksinya karena spacing-variable yang kompleks.

Umumnya joystick yang ada dipasaran mempunyai resolusi 8-bit (256 steps). Bila kita gerakkan dengan defleksi maksimum — mis. dari posisi ‘kiri-mentok’ ke posisi ‘kanan-mentok’ — komputer akan mengenali 256 titik/posisi/steps joystick tsb (raw value 0-255) . Kalo kita menggunakan exponential-sensitity setting pada joystick 8-bit, spacing/jarak antara titik2 tserebut akan disebar secara eksponensial pula, sehingga kadang menimbulkan effect ‘jumping’ karena spacing yang terlalu lebar dan/atau tidak merata. Apalagi kalo ada noise dari pots-nya yang udah mulai lemah atau kotor.

Sedangkan joystick 10-bit (misalnya yg menggunakan high-precission pots & magnetic/hall-sensor pots), effek ‘jumping’ tersebut bisa tereduksi berkat resolusi-nya yang lebih tinggi sehingga spacing di ‘lag-regionnya‘ tidak terlalu lebar (note: 10-bit = 1024 steps). Demikan juga joystick 12-bit dengan resolusi yg jauh lebih tinggi (4096 steps) seperti misalnya joystick/controller yg menggunakan Force Sensor. (**awas, jangan ketuker dengan force-feedback joystick, it’s a different beast).

Force-sensor joystick ini mengolah data berdasarkan besaran tekanan/force/pressure, BUKAN pergerakan/deflection karena secara fisik joystick ini bersifat statis/tidak bergerak sama sekali. Misalnya seperti sidestick-nya pesawat F-16, tekanan/pressure-force yang diberikan pilot pada control-stick diolah sebagi control input pergerakan pesawat. Dengan modifikasi FCC/FSSC force-sensor, HOTAS Cougar-pun menjadi ‘joystick-statis‘ dgn tactile-feedback yang mirip dengan sidestick F-16 aselinya. Karena pada stick ini kita cuma bisa merasakan tactile-feedback sementara defleksi nyaris gak keliatan, sebaiknya menggunakan exponential-sensitivity setting karena naturally kitapun meng-apply pressure secara non-linear.

FSUIPC JOYCTICK SETTINGS

Bagi user yang pake “Registered” FSUIPC, bisa setting joystick-nya melalui FSUIPC dengan options yang lebih banyak dibandingkan fasilitas bawaannya FS. Kalibrasi joystick, sensitivitas, axis-assignment & fungsi buttonnya bisa kita customize secara general ataupun spesific untuk pesawat tertentu based on FS title-nya (parameter “title=” pada AIRCRAFT.CFG). Setingan spesific ini akan disimpan (saved) pada “FSUIPC.INI” file (in “MODULES” directory), sehingga setiap kita loading pesawat; setting joystick, sensitivy & assignement-nya otomatis mengikuti setting yg telah kita definisikan secara spesifik untuk pesawat tersebut.

Detail tentang joystick setting di FSUIPC silakan baca2 di manual-nya karena disitu udah lumayan lengkap. Emang awalnya berasa ribet, tapi kalo dipelajari pelan-pelan bakal berguna banget buat selanjutnya, terutama bagi user yang memiliki configurasi hardware/device yg complex; misalnya multiple joysticks, rotary encoder, programmable keyboard dll.

fyi, FS mengenali joystick berdasarkan standard protocol DirectX. Satu joystick device maksimum 32 buttons dan 8-axis (X,Y,Z,rX,rY,rZ,s0,s1) yang dikenal oleh Windows. Sedangkan FSUIPC mengenal 6 axis (X,Y,Z,R,U,V) dan 32 buttons per-device tapi mampu mengakomadasi hingga 2048 buttons combinations.

Masing-masing joystick memiliki DeviceID spesifik yangautomatically-assigned pada saat komputer pertamakali mendeteksi joystick tsb (initial detection & enumeration routine). Kemudian joystick akan tercantum pada layout “Control Panel – Game Controllers” sesuai urutan slot yang tersedia.

FS mengenali joystick berdasarkan DeviceID, yang akan direkam pada configuration file-nya (FS9.CFG/FSX.CFG), misalnya di file tsb akan tercantum [JOYSTICK_MAIN {08297390-05FD-11DA-8001-444553540000}] diikuti axis assignment & button definition-nya. Demikian pula bila terdapat joystick tambahan, akan ada parameter JOYSTICK_MAIN lain dengan ID yang berbeda.

Sedangkan FSUIPC mengenali joystick berdasarkan urutan slot pada layout “Game Controllers”. Misalnya joystick tersebut menempati urutan slot pertama, FSUIPC akan mengenalnya sebagai “Joy#0“, bila di slot kedua akan dikenal sebagai “Joy#1” dst-nya.

Bagi user yang sering melepas-pasang joystick dikomputernya, harap hati-hati karena kemungkinan DeviceID & slot layout-nya berubah terutama bila dipasang pada port (USB/gameport) yang berbeda. Kalau DeviceID atau urutan slotnya berubah, FS dan FSUIPC akan menganggap sebagai joystick ‘baru’ dgn ; settingan dan profile sebelumnya dianggap invalid sehingga settingnya kembali jadi default. Jadi usahakan untuk memasang joystick tsb pada port/colokan yang sama dan sebisa mungkin tanpa melalui hubs.

Sebelum melakukan kalibrasi pada FSUIPC, controls-sensitivities settingnya ‘HARUS’ dirobah dulu menjadi LINEAR, dengan menambahkan parameter “STICK_SENSITIVITY_MODE=0” pada FS9.CFG / FSX.CFG seperti cara diatas. Kemudian di FS’ CONTROLS-SENSITIVITES option, set sensitivitas-nya menjadi maksimum (slider mentok kanan) dan null-zone minimum (slider mentok kiri). Setelah itu baru kalibrasi melalui FSUIPC module.

Kalo ingin merobah joystick axis-assignment menggunakan FSUIPC, assignment axis tersebut di FS-nya mesti di-clear dulu (menu OPTIONS – CONTROLS – ASSIGNMENT – AXIS ). Bila seluruh axis & buttons akan kita define ulang menggunakan FSUIPC, di FS kita disable saja joysticknya (menu OPTIONS – CONTROLS – DISABLE JOYSTICK)

Tips terakhir, biasakan untuk mengkalibrasi joystick setiap-kali komputer dinyalakan terutama pada joytsick yang menggunakan auto-calibration. Gerakkan ke posisi2 maksimum deflection-nya untuk me-refresh calibration value. Ulangi lagi proses kalibrasi ini beberapa jam kemudian atau apabila dirasakan temperatur komputer/ruangan berubah untuk mengantisipasi gejala “heat/temperature-induced electronic drifts“, terutama pada joystick yang pots-nya sensitif terhadap suhu.

4. CT ScannerPenggunaan zat-zat radioaktif merupakan bagian dari teknologi nuklir yang relatif cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini disebabkan zat-zat radioaktif mempunyai sifat-sifat yang spesifik, yang tidak dimiliki oleh unusr-unusr lain. Dengan memanfaatkan sifat-sifat radioaktif tersebut, maka banyak persoalan yang rumit yang dapat disederhanakan sehingga penyelesaiannya menjadi lebih mudah.
Salah satu sifat dari radiasi nuklir yaitu mampu untuk menembus benda padat. Sifat ini banyak digunakan dalam teknik radiografi yaitu pemotretan bagian dalam suatu benda dengan menggunakan radiasi nuklir seperti sinar-x, sinar gamma dan neutron. Hasil pemotretan tersebut direkam dalam film sinar-x.Zat radioaktif banyak digunakan dalam bidang industri dan kedokteran. Dalam bidang kedokteran, radiografi digunakan untuk mengetahui bagian dalam dari organ tubuh seperti tulang, paru-paru dan jantung. Dalam radiografi dengan menggunakan film sinar-x, maka obyek yang diamati sering tertutup oleh jaringan struktur lainnya, sehingga didapatkan pola gambar bayangan yang didominasi oleh struktur jaringan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membingungkan para dokter untuk mendiagnosa organ tubuh tersebut. Untuk mengatasi hal ini maka dikembangkan teknologi yang lebih canggih yaitu CT-Scanner (Computed Tomography Scanner) dengan menggunakan radiasi nuklir seperti neutron, sinar gamma dan sinar-x.

Sistem CT Scanner

Peralatan CT Scanner terdiri atas tiga bagian yaitu sistem pemroses citra, sistem komputer dan sistem kontrol.Sistem pemroses citra merupakan bagian yang secara langsung berhadapan dengan obyek yang diamati (pasien). Bagian ini terdiri atas sumber sinar-x, sistem kontrol, detektor dan akusisi data. Sinar-x merupakan radiasi yang merambat lurus, tidak dipengaruhi oleh medan listrik dan medan magnet dan dapat mengakibatkan zat fosforesensi dapat berpendar. Sinar-x dapat menembus zat padat dengan daya tembus yang tinggi. Untuk mengetahui seberapa banyak sinar-x dipancarkan ke tubuh pasien, maka dalam peralatan ini juga dilengkapi sistem kontrol yang mendapat input dari komputer.

Bagian keluaran dari sistem pemroses citra, adalah sekumpulan detektor yang dilengkapi sistem akusisi data. Detektor adalah alat untuk mengubah besaran fisik-dalam hal ini radiasi-menjadi besaran listrik. Detektor radiasi yang sering digunakan adalah detektor ionisasi gas. Jika tabung pada detektor ini ditembus oleh radiasi maka akan terjadi ionisasi. Hal ini akan menimbulkan arus listrik. Semakin besar interaksi radiasi, maka arus listrik yang timbul juga semakn besar. Detektor lain yang sering digunakan adalah detektor kristal zat padat. Susunan detektor yang dipasang tergantung pada tipe generasi CT Scanner. Tetapi dalam hal fungsi semua detektor adalah sama yaitu mengindentifikasi intensitas sina-x seletalh melewati obyek. Dengan membandingkan intensitas pada sumbernya, maka atenuasi yang diakibatkan oleh propagasi pada obyek dapat ditentukan. Dengan menggunakan sistem akusisi data maka data-data dari detektor dapat dimasukkan dalam komputer. Sistem akusisi data terdiri atas sistem pengkondisi sinyal dan interfacae (antarmuka ) analog ke komputer.

Sistem Komputer dan Sistem Kontrol

Bagian komputer bertanggung jawab atas keseluruhan sistem CT Scanner, yaitu mengontrol sumber sinar-x, menyimpan data, dan mengkonstruksi gambar tomografi. Komputer terdiri atas processor, array processor, harddisk dan sistem input-output.Processor atau CPU (unit pemroses pusat) mempunyai fungsi untuk membaca dan menginterprestasikan instruksi, melakukak eksekusi, dan menyimpan hasil-hasil dalam memory. CPU yang digunakan mempunyai bus data 16,32 atau 64 bit. Tipe komputer yang digunakan bisa mikro komputer dan bisa mini komputer, namun harus memenuhi unjuk kerja dan kecepatan bai sistem CT Scanner. Harddisk mempunyai fungsi untuk menyimpan data dan software.

CT Scanner pada umumnya dilengkapi dengan dua buah monitor dan keyboard. Masing-masing sebagai operator station dan viewer station dan keduanya mempunyai tugas yang berbeda. Operation Station mempunyai fungsi sebagai operator kontrol untuk mengontrol beberapa parameter scan seperti tegangan anoda, waktu scan dan besarnya arus filamen. Sedangkan viewer station mempunyai fungsi untuk memanipulasi sistem pemroses citra. Bagian ini mempunyai sistem kontrol yang dihubungkan dengan sistem keluaran seperti hard copy film, magnetic tape, dan paper print out. Dari bagian ini dapat dilakukan pekerjaan untuk mendiagnosa hasil scanning.

Rekonstruksi

Bagian terakhir dari CT Scanner adalah rekonstruksi. Banyak metode yang dapat digunakan untuk merekonstruksi gambar tomografi, mulai dari back projection sampai konvolusi.Metode back projection banyak digunakan dalam bidang kedokteran. Metode ini menggunakan pembagian pixel-pixel yang kecil dari suatu irisan melintang. Pixel didasarkan pada nilai absorbsi linier. Kemudian pixel-pixel ini disusun menjadi sebuah profil dan terbentuklah sebuah matrik. Rekonstruksi dilakukan dengan jalan saling menambah antar elemen matrik.

Untuk mendapatkan gambar rekonstruksi yang lebih baik, maka digunakan metode konvolusi. Proses rekonstruksi dari konvolusi dapat dinyatakan dalam bentuk matematik yaitu transformasi Fourier. Dengan menggunakan konvolusi dan transformasi Fourier, maka bayangan radiologi dapat dimanipulasi dan dikoreksi sehingga dihasilkan gambar yang lebih baik.

Teknologi Pengolahan Sinyal Digital pada Microphone Serba Bisa (Masa Depan)

Perkembangan dunia elektronika sangatlah pesat. Hal ini ditandai dengan munculnya ribuan alat elektronika baru tiap harinya. Alat tersebut muncul guna membantu manusia dalam bekerja atau sekedar untuk hiburan. Salah satu teknologi elektronika yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah teknologi pengolahan suara digital, khususnya teknologi microphone. Teknologi pembuatan microphone pada umumnya menggunakan prinsip-prinsip mengenai bunyi dan ciri alami telinga manusia. Prinsip mengenai bunyi (dalam hal ini bunyi yang dihasilkan manusia dan alat musik) menjelaskan bahwa bunyi dibedakan berdasarkan frekuensinya (frekuensi rendah, frekuensi sedang, dan frekuensi tinggi). Prinsip ini merupakan pondasi dasar bagi pembuatan microphone (disesuaikan seturut frekuensinya masing-masing) supaya bunyi yang ditangkap tidak mengalami penurunan kualitas (bahkan seharusnya ditambah). Sedangkan prinsip ciri alami telinga manusia dalam pembuatan microphone supaya bunyi yang dihasilkan nyaman atau sesuai untuk telinga manusia (berdasarkan Kurva Fletcher-Munson).

Teknologi microphone saat ini sudah berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan teknologi pengolahan sinyal digital. Hal ini ditandai dengan munculnya penemuan-penemuan teknologi baru yang ada pada microphone. Untuk saat ini, di dalam microphone sudah terkandung teknologi seperti : anti-hiss, feedback destroyer, high SNR, wireless, high gain, excellent rejection of unwanted sound, dan lain-lain. Inti dari teknologi-teknologi ini menggunakan tapis-tapis digital. Sinyal bunyi yang ditangkap oleh microphone tinggal dikalikan dengan tapis digital (berupa DSP Processor) yang sesuai sehingga diperoleh sinyal bunyi yang diinginkan. Dari segi bentuk dan ukuran, microphone juga mengalami perkembangan. Dari bentuk dan ukuran yang kecil hingga yang berukuran besar dengan kelebihannya masing-masing.

Tulisan ini secara umum memaparkan tentang microphone masa depan. Yang menjadi latar belakang diambilnya tema ini adalah adanya suatu kenyataan bahwa microphone dengan kegunaan yang sama (yaitu untuk mengubah sinyal bunyi analog menjadi sinyal bunyi digital) ternyata berbeda-beda bentuk dan komposisi di dalamnya yang disesuaikan dengan sumber bunyi. Hal tersebut juga berlaku dalam speaker. Akan tetapi, speaker tidak dibahas dalam tulisan ini karena bunyi yang dihasilkan oleh speaker saat ini dan ke depannya masih sangat tergantung dari komponen penyusunnya (perangkat keras). Perkembangan dunia pengolahan sinyal digital yang ada serta perkembangan peralatan elektronika (mikroprosesor, teknologi nano ,optik) juga merupakan landasan yang kuat pendukung teknologi microphone masa depan ini.

Microphone masa depan ini memiliki bentuk yang ringkas dan lentur, dilengkapi dengan suatu DSP Processor (Digital Signal Processor) terpisah yang dapat ditingkatkan kemampuannya (di-upgrade dengan perangkat lunak yang sesuai), dan menggabungkan semua teknologi yang ada pada microphone sekarang ( seperti anti hiss, efisiensi tinggi, perolehan tinggi, SNR tinggi, tahan untuk tingkat SPL tinggi, nirkabel, dan memiliki kemampuan untuk menolak bunyi yang tidak diinginkan / teknik isolasi). Teknologi DSP (yang dilengkapi dengan perangkat lunak peng-upgrade) digunakan dengan pertimbangan bahwa di masa mendatang teknologi perangkat lunak akan lebih maju (dari sisi perancangan dan kelenturan) dibandingkan dengan perangkat keras. Berikut adalah penjelasan dari sisi teknis dan praktis tentang microphone masa depan ini :

1. Secara Teknis
Selain memiliki segala kelebihan dari teknologi microphone sekarang, microphone ini juga dapat digunakan untuk semua sumber bunyi yang ada (semua alat musik, suara manusia, dan lain-lain). Fitur terakhir ini didukung dengan adanya teknologi preset bentuk tanggapan frekuensi adaptif. Secara otomatis preset bentuk tanggapan frekuensi menyesuaikan frekuensi sumber bunyi yang ditangkap oleh microphone. Pilihan preset ini juga dapat dilakukan secara manual oleh pengguna dengan memilih pilihan manual. Setiap sumber bunyi memiliki bentuk tanggapan frekuensi yang unik, sehingga dalam proses pengambilan bunyi tersebut menjadi sinyal digital harus menggunakan microphone dengan tanggapan frekuensi yang sesuai supaya bunyi tersebut tidak mengalami penurunan kualitas. Dalam hal ini diambil contoh alat musik drum akustik, microphone yang digunakan untuk menangkap bunyi drum akustik terdiri dari beberapa macam jenis yang disesuaikan dengan frekuensinya. Microphone yang digunakan untuk mengangkap bunyi snare drum berbeda dengan microphone yang digunakan untuk menangkap bunyi bass drum. Microphone ini juga dilengkapi dengan teknologi adaptive volume adjust yang dapat diaktifkan atau tidak ( terdapat tombol on off untuk fitur ini). Dengan adanya teknologi ini, secara otomatis bunyi yang ditangkap (walaupun dengan volume yang berbeda-beda) akan disesuaikan dengan patokan volume yang diberikan (jika terlalu nyaring akan dilemahkan dan jika terlalu lemah akan dikuatkan) sehingga bunyi yang ditangkap memiliki tingkat yang tetap. Hal ini juga penting guna mencegah terjadinya kelebihan beban pada mixer.

2. Secara Praktis
Microphone ini berukuran kecil dan lentur sehinga penempatannya mudah dan dapat ditempatkan pada letak yang sesuai dimana bunyi ditangkap secara optimal. Penempatan posisi microphone juga sering menjadi masalah teknis , seperti feedback , adanya kebocoran suara / leakage (suara yang tidak diinginkan ditangkap oleh microphone), pola polar / polar pattern (grafik hubungan antara kepekaan microphone dengan sudut sumber bunyi untuk frekuensi tertentu) , konsep akustik ruangan , dan lain lain. Dengan adanya microphone ini , masalah-masalah penempatan microphone dapat teratasi. Dalam hal ini diambil contoh untuk gitar akustik, microphone ini dapat diletakkan di dalam tabung gitar tersebut sehingga bunyi dapat ditangkap dengan maksimal dan tidak terganggu oleh bunyi-bunyi di sekitarnya.

Teknologi microphone masa depan ini menjanjikan kemudahan-kemudahan dalam dunia olah suara ( seperti recording, mixing, dll.). Cara penggunaannya sederhana tetapi memberikan hasil berkualitas maksimal.

CD ROM
CD ROM Yellowpages merupakan layanan direktori terlengkap di Indonesia yang menampilkan semua informasi yang ada di halaman BPT Yellow Pages seluruh Indonesia dalam format CD-ROM. Didukung lebih dari 500.000 data perusahaan, asosiasi bisnis, lembaga pemerintahan, & fasilitas umum di seluruh Indonesia. Pencarian data dengan search angine yang dapat menyajikan data nama, alamat, nomor telepon, faksimili, email, homepage serta produk dan merek dagang perusahaan yang disusun berdasarkan klasifikasi usaha. Dilengkapi juga dengan fasilitas print label.

Untuk seluruh fasilitas tersebut, CD ROM Yellowpages dijual dengan harga Rp250,000.- per unit. Untuk pemesanan, hubungi Sdri. Sarie (021-7201221 Ext. 3509).

CD-ROM Power Business merupakan jembatan kebutuhan perusahaan terhadap kurangnya sumber data yang dapat dipercaya dan juga kemudahan dalam mengakses data. Power Business CD-ROM memberikan direktori dari seluruh perusahaan yang ada di Indonesia dengan jumlah listing sebanyak 52.000 perusahaan dan 130.000 data alamat perusahaan yang di-update sebanyak tiga kali per tahun.

Fitur yang disediakan terdiri dari:

  1. Search engine untuk pencarian data perusahaan berdasarkan nama perusahaan, nama popular, dan alamat maupun contact person dari setiap perusahaan.
  2. Organiser untuk mengatur jadwal aktivitas bisnis harian, mingguan, dan bulanan serta monitoring business opportunity dan penjualan.

Mengenal CD-ROM dan DVD-ROM

CD (Compact Disc) dan DVD (Digital Video Disc) saat ini sudah umum digunakan di seluruh dunia karena merupakan perlengkapan standar yang dapat diandalkan. CD dapat dengan mudah dibawa dan bahkan bisa untuk menyimpan data. Secara umum, pengertian CD-ROM (Compact Disc Read Only Memory) adalah media untuk menyimpan data atau informasi lainnya dalam jumlah yang sangat besar (lebih dari 600 MegaByte). Jauh lebih besar jika kita bandingkan dengan floppy disk (1,4 MB). CD ROM dapat diakses dan dibaca di layar, atau dicetak dari komputer manapun yang memiliki CD-ROM player. CD dapat menyimpan informasi dalam berbagai bentuk, seperti: teks, gambar, presentasi, slide, audio dan video. Lalu bagaimana CD-ROM tersebut dibuat ? Untuk mengetahuinya, silahkan baca terus artikel ini…

Sejarah CD-ROM

Mulai tahun 1983 sistem penyimpanan data di optical disc mulai diperkenalkan dengan diluncurkannya Digital Audio Compact Disc. Sejak saat itulah teknologi penyimpanan pada optical disc berkembang.

Bahan pembuat CD-ROM

CD-ROM yang ada saat ini umumnya terbuat dari resin (polycarbonate) dan dilapisi permukaan yang sangat reflektif seperti alumunium. Informasi direkam secara digital sebagai lubang-lubang mikroskopis pada permukaan yang reflektif. Proses ini dilakukan dengan menggunakan laser yang berintensitas tinggi. Permukaan yang berlubang ini kemudian dilapisi oleh lapisan bening. Informasi dibaca dengan menggunakan laser berintensitas rendah yang menyinari lapisan bening tersebut sementara motor memutar disk.

Intensitas laser tersebut berubah setelah mengenai lubang-lubang tersebut kemudian terefleksikan dan dideteksi oleh fotosensor yang kemudian dikonversi menjadi data digital. Penulisan data pada CD-ROM hanya dapat dilakukan sekali saja. Walaupun demikian, optical disk ini memiliki keunggulan dari segi mobilitas. Bentuknya yang kecil dan tipis memudahkannya untuk dibawa kemana-mana.

Tipe-tipe piringan CD

Piringan CD yang sering kita lihat di pasaran terbagi menjadi tiga yaitu CD-ROM, CD-R dan CD-RW. Masing-masing mempunyai karakteristik sendiri.

CD-ROM

Biasanya piringan CD-ROM berwarna perak. Proses pembuatannya adalah dengan cara menaruh selembar lapisan plastik yang telah disinari oleh sinar laser. Sinar laser itu akan membentuk semacam pit (lubang) berukuran mikro, yang sangat kecil sekali. Lubang-lubang itu akan membentuk deretan kode yang isinya berupa data. Sekali tercipta lubang, maka tidak bisa ditutup lagi. Lalu lapisan plastik itu akan dibungkus lagi oleh plastik cair yang berguna sebagai pelindung dan pemantul. Semua itu prosesnya dilakukan secara bertahap dalam suatu mesin cetakan. Alat cetakan CD-ROM bentuknya mirip cetakan kue martabak manis dan analogi pembuatannya juga mirip seperti itu.

Sesuai dengan namanya ROM (Read Only Memory), data di dalam CD-ROM tidak bisa dihapus sehingga CD-ROM tidak bisa dihapus atau direkam pada alat CD Writer yang biasa kita miliki.

Kualitas CD-ROM ditentukan oleh ketiga lapisan seperti pada gambar. Lapisan pemantul harus mampu memantulkan cahaya yang dipancarkan oleh sinar laser dengan sempurna sehingga informasi yang ada dilapisan data dapat terbaca dengan baik. Sementara lapisan pelindung harus kuat agar lapisan data tidak rusak karena tergores atau kotor.

CD-ROM original umumnya lebih awet daripada CD-ROM bajakan. Karena kualitas lapisan-lapisan pada CD-ROM original sangat kuat dan berkualitas di bawah standar mutu yang dapat diandalkan. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan ada pula CD-ROM bajakan yang berkualias, namun harganya tidaklah murah.

CD-R

Singkatan dari Compact Disc Recordable. Piringan ini umumnya berwarna hijau, tetapi ada yang berwarna biru, merah dan hitam. Proses pembuatannya hampir sama dengan CD-ROM, yaitu dengan cara menaruh selembar lapisan dan plastik. Perbedaannya plastik itu belum disinari oleh laser. Lalu lapisan plastik itu akan dibungkus lagi oleh plastik cair yang berguna sebagai pelindung dan pemantul. Lalu kapan lembaran plastik itu akan disinari laser? Jawabannya nanti pada saat kita hendak merekamnya. Itulah sebabnya C-R disebut juga dengan CD-Blank karena isinya masih kosong.

Menentukan kualitas CD-R juga sama dengan kualitas CD-ROM. Tapi ada yang harus jadi perhatian ekstra, yaitu karena proses rekaman dilakukan setelah CD tercetak dan ada begitu banyak CD-R yang dijual dipasaran, maka kualitas lembaran di dalam CD-R itu harus cocok dengan CD Writernya.

CD-RW

CD-RW yang merupakan singkatan dari Compact Disc Rewritable adalah sebuah jenis CD yang dapat kita isi sendiri, kemudian isinya dapat kita hapus jika diinginkan. Harga CD-RW biasanya lebih mahal daripada CD-R.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: