Tesiajie's Blog

Mei 23, 2010

Baby,,,…

Filed under: Uncategorized — Tresia Sahagana'onesibua' @ 11:48 am

You know you love me
I know you care
Just shout whenever,
And I’ll be there
You want my love
You want my heart
And we would never, ever, ever be apart

Are we an item?
Girl quit playin’
We’re just friends,
What are you sayin’?
Said there’s another as you look right in my eyes
My first love, broke my heart for the first time

And I was like
Baby, baby, baby ooh
Like
Baby, baby, baby noo
Like
Baby, baby, baby ohh
I thought you’d always be mine (mine)
Baby, baby, baby ohh
Like
Baby, baby, baby noo
Like
Baby, baby, baby ohh
I thought you’d always be mine (mine)

Oh oh For you, I would have done whatever
And I just can’t believe we ain’t together
And I wanna play it cool
But I’m losin’ you
I’ll buy you anything
I’ll buy you any ring
Cause I’m in pieces
Baby fix me
And just shake me till you wake me from this bad dream
I’m goin down, down, down, down
And I just can’t believe my first love won’t be around

And I’m like
Baby, baby, baby ohh
Like
Baby, baby, baby noo
Like
Baby, baby, baby ohh
I thought you’d always be mine (mine)
Baby, baby, baby ohh
Like
Baby, baby, baby noo
Like
Baby, baby, baby ohh
I thought you’d always be mine (mine)

=D..

April 29, 2010

Jembatan Terpanjang Di Dunia

Filed under: Uncategorized — Tresia Sahagana'onesibua' @ 3:50 pm

10 Jembatan Terpanjang di Dunia

31 Maret, 2009 in Umum

Indonesia sebentar lagi boleh bangga punya Jembatan Suramadu yang sangat panjang (5 KM lebih), namun bila dibandingkan dengan jembatan panjang lainnya di dunia, ternyata ada jembatan lain yang jauh lebih panjang. Dan hebatnya, beberapa jembatan terpanjang di dunia berada di negeri China. Jadi jangan heran kalau sejak studi kelayakan hingga pelaksanaan proyek, para insinyur dari China banyak berperan dalam proyek Jembatan Suramadu.

Ada beberapa versi daftar jembatan terpanjang di dunia. Ternyata definisi jembatan itu sendiri berbeda. Menurut versinya wikipedia, jembatan terpanjang di dunia adalah Bang Na Expressway di Thailand yang panjangnya mencapai 54 KM. Sementara versi lain memasukkan sebuah jembatan kedalam daftar terpanjang hanya bisa keseluruhan ruas jembatan berada diatas air. Nyatanya Bang Na Expressway sebagian besar  panjangnya berada didaratan dan lebih cocok disebut sebagai viaduct dibandingkan dengan jembata.

Bila yang dimaksud adalah jembatan dengan keseluruhan ruas berada di atas air, maka daftar 10 jembatan terpanjang di dunia adalah :

10. Seven-mile bridge, Panjang 10.887 M menghubungkan antara Teluk Meksiko dengan daratan di Florida Amerika Serikat.


9. San Mateo – Bridge Hayoard, Panjang 11.265 M, melintasi teluk California, San Franscisco Amerika.


8. Union Bridge, Panjang 12.900 M, menghubungkan antara pulau Prince Edward dengan dataran New Brunswick di Kanada.


7. Rio Bridge – Niteroi, Panjang 13.290 M, Menghubungkan kota Rio de Janeiro di Brazil dan Niteroi.


6. Penang Bridge, Panjang 13.500 M, menghubungkan antara Pulau Penang dan daratan Malaysia.


5. Vasco da Gama bridge, Panjang 17.200 M, jembatan terpanjang di daratan Eropa yang melintasi sungai-sungai di kota Lisbon Purtugal


4. Chesapeake Bay Bridge, Panjang 24.140 M, melintasi teluk Chesepake di Maryland Amerika.


3. King Fahd Causeway, Panjang  M, melintasi bendungan yang menghubungkan antara Saudi Arabia dan Bahrain.


2. Bridge donghai, Panjang 32.500 M, Jembatan terpanjang di Asia dan juga jembatan terpanjang yang melintasi lautan, terletak di Shanghai China.


1. Lake pontchartrain, Panjang 38.420 M terdapat di Lousiana New Orleans, Amerika.

Sejalan dengan pembangunan disetiap negara yang begitu cepat, maka tentunya daftar diatas akan berubah dalam tahun-tahun mendatang. Sebagai contoh, kandidat untuk jembatan terpanjang akan segera dipecahkan oleh The Beijing-Shanghai Express Railway yang panjangnya mencapai 164 KM. Selanjutnya sebagai negara kaya minyak, maka Qatar dan Bahrain juga akan membangun jembatan yang diberi nama Qatar Bahrain Bridge dengan panjang mencapai 40 KM.

Sementara itu untuk Jembatan paling luas dan paling lebar di dunia ada di Sydney harbor bridge, Australia. Terdapat 16 jalur mobil, 8 jalur di tingkat bawah dan 8 jalur di tingkat atas.

Menara Pisa

Filed under: Uncategorized — Tresia Sahagana'onesibua' @ 3:47 pm

Menara miring Pisa (dalam Bahasa Italia: Torre pendente di Pisa) atau yang biasa disebut The Tower of Pisa (La Torre di Pisa) adalah sebuah menara lonceng dari sebuah katedral di kota Pisa, Italia. Menara ini terletak di belakang katedral dan merupakan struktur ketiga di Campo dei Miracoli (keajaiban) Pisa.


Walaupun rencana semula dibangun secara vertikal, menara itu mulai miring ke arah tenggara segera setelah dilakukan konstruksi di tahun 1173, dikarenakan pondasi yang tak sempurna.

Tinggi dari menara tersebut adalah 55,86 km dari permukaan tanah di sisi terendah, dan 56,70 m di sisi yang tertinggi. Lebar alas bangunan itu adalah 4,09 m dan lebar puncaknya adalah 2,48 m. Berat menara ini diperkirakan 14,500 ton dan memiliki 294 anak tangga.
Konstruksi dari Menara Pisa dibangun dalam tiga tahap, yang memakan waktu sekitar 200 tahun. Konstruksi marmer putih di lantai pertama dimulai pada tanggal 9 Agustus 1173, pada masa kejayaan militer dan kemakmuran Italia. Lantai pertama ini dikelilingi oleh beberapa pilar dan walaupun posisinya miring, namun tetap tahan selama berabad-abad.

Ada kontroversi seputar identitas dari arsitek yang membangun Menara Miring Pisa. Selama bertahun-tahun, desain tersebut diyakini dibuat oleh Guglielmo dan Bonanno Pisano, artis lokal kenamaan di abad ke-12, yang terkenal dengan karya perunggunya, khususnya pada karyanya Pisa Duomo.

Bonanno Pisano meninggalkan Pisa di tahun 1185 dan pindah ke Monreale, Sicilia, namun kemudian kembali lagi dan meninggal di tanah kelahirannya itu. Makamnya ditemukan di dasar tower di tahun 1820.

Menara itu pertama kali miring setelah lantai ketiga dibangun di tahun 1178, dikarenakan amblasnya pondasi sedalam tiga meter, akibat pergerakan tanah. Ini berarti bahwa desain dari menara tersebut telah cacat sejak pada awalnya.

Konstruksi dihentikan sementara selama hampir seabad lamanya, karena para warga Pisa hampir terlibat peperangan dengan Genoa, Lucca dan Florence. Selama masa ‘istirahat’ ini, struktur tanah di bawahnya telah kembali stabil. Dan di tahun 1198, dipasang jam untuk sementara pada bangunan yang masih belum tuntas itu.

Di tahun 1272, bangunan itu dilanjutkan kembali oleh Giovanni di Simone, arsitek dari Camposanto. Lantai keempat dibangun untuk mengimbangi kemiringan dari menara ini. Pembangunan kembali dihentikan di tahun 1284, saat Pisa ditaklukan oleh Genoa dalam Pertempuran Meloria.

Pembangunan menara lonceng ini tak selesai terhenti hingga 1372. Setelah itu, Tommaso di Andrea Pisano berhasil menyelesaikan elemen-elemen Gothic dari menara tersebut, dengan memberikan sentuhan gaya Roma. Terdapat tujuh lonceng pada menara tersebut, yang masing-masing mewakili not pada nada. Lonceng yang terbesar dipasang pada tahun 1655.

Asal-usul Candi Borobudur

Filed under: Uncategorized — Tresia Sahagana'onesibua' @ 3:43 pm

Asal mulanya….

Nama aslinya “Dasabhumi Sambhara Budara” yang berarti “Bukit Sepuluh Tingkatan Kerohanian”, yang disingkat menjadi Sambhara Budara, lalu Bharabudara dan dengan logat Jawa menjadi Borobudur.

Borobudur menghadap ke arah Timur dan didirikan di atas bukit pada tahun 826, prasastinya dikeluarkan pada tahun 824.

Pembuatannya dipercayakan kepada seorang arsitek dari India bernama Gunadharma. Dahulu kala Borobudur seluruhnya dicat putih dan berada di tengah-tengah sebuah danau.

Borobudur berukuran 123 X 123 m.; tinggi aslinya 42 m. (ujungnya telah patah ± 8 m.) dan terdiri atas empat bagian:

  1. alas bawah
  2. 5 (lima) lapis lingkaran persegi yang berlekuk sehingga berbentuk segi 20.
  3. 3 (tiga) lapis lingkaran bundar
  4. 1 (satu) stupa besar di tengah-tengah.

Kesemuanya ini melambangkan “Dasa Bhumi” atau 10 (sepuluh) Kesempurnaan (Paramita) yang harus dimiliki oleh seorang Bodhisatva untuk dapat menjadi Buddha.

Lapisan-lapisan yang berbentuk segi 20 diberi serambi, sehingga merupakan lorong-lorong. Dinding serambi-serambi ini, baik di bagian luar maupun di bagian dalam diberi relief-relief (gambar-gambar pahatan) yang mengkisahkan cerita-cerita tertentu. Pada dinding dalam dari lorong pertama terdapat relief-relief tentang riwayat Buddha Gautama berdasarkan naskah “Lalita Vistara”.

Pada dinding luarnya terdapat cerita tentang kelahiran Pangeran Siddharta sebagai Bodhisatva menurut kitab “Jatakumala”.

Pada lorong yang lain terdapat cerita tentang para Bodhisatva lain dari kitab “Gandavyuha”; sedang di kaki candi yang tertutup terdapat lukisan-lukisan yang berhubungan dengan hukum Karma dari kitab “Karma Vibhanga”.

Dari lapisan pertama sampai keempat terdapat patung-patung Dhyani Buddha (masing-masing 92 buah), yaitu:

  1. menghadap ke Timur: Aksobya dengan mudra “Bhumisparsa” (menunjuk bumi sebagai saksi).
  2. menghadap ke Selatan: Ratnasambhava dengan mudra “Vara” atau “Varada” (memberi anugerah).
  3. menghadap ke Barat: Amitabha dengan mudra “Dhyana” (meditasi).
  4. menghadap ke Utara: Amogasidhi dengan mudra “Abhaya” (jangan takut).

Pada baris kelima menghadap keempat jurusan terdapat 64 buah patung dari Dhyani Buddha Vairocana dengan mudra “Vitarka” (meyakinkan).

Pada lingkaran bundar yang terdiri dari 3 lapisan terdapat 72 buah patung Vajrasatva dengan Dharmacakra-mudra dalam stupa-stupa yang dindingnya berlubang. Lubang-lubang stupa pada lapisan kesatu dan kedua (masing-masing 32 buah 24 buah) berbentuk “belah ketupat” sebagai lambang “masih belum dalam keseimbangan sempurna”; pada lapisan ketiga lubangnya berbentuk persegi sebagai lambang “mantap dalam keseimbangan”.

Jumlah patung yang terdapat di Borobudur ialah 368 + 64 + 72 = 504 buah.

Dinding stupa besar ditengah-tengah tidak tembus dan di dalamnya terdapat rongga yang sekarang kosong, yang mungkin sekali dahulu tempat menyimpan relik Sang Buddha.

Ketiga candi di atas setelah selesai, dikeramatkan oleh Puteri dari Raja Samarottungga, yaitu Rajaputri Pramodawardhani pada tahun 843 (prasasti tahun 840). Dari akhir abad ke-15 selama lebih dari 300 tahun lamanya Borobudur ditelantarkan.

Usaha-usaha menyelamatkan candi Borobudur

Pada tahun 1814, Raffles menerima laporan bahwa ada peninggalan purbakala di desa Bumisegoro bernama Borobudur. Pada tahun 1815 atas perintah Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stanford Raffles, opsir zeni Ir. H.C. Cornelius memimpin pembersihan wajah candi yang masih disebut-sebut dalam “Babad Tanah Jawa” seabad sebelumnya. Lebih dari 200 orang penduduk dipaksa kerja rodi selama 45 hari menebang pohon, membabat dan membakar belukar serta mengelupas tanah yang sudah menyelimuti candi yang kakinya sudah terbenam 10 meter ke dalam tanah.

Lalu Borobudur pun terjaga dari tidurnya yang pulas kira-kira 3 abad lamanya. Sayang Raffles tidak dapat meneruskan usahanya karena sudah harus pergi dari Indonesia.

Pada tahun 1835 pekerjaan untuk menyelamatkan candi Borobudur baru dapat dilanjutkan kembali. Seorang seniman Jerman, A. Shaefer, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya mengabadikan Borobudur di atas celluloid. Ada 5.000 foto yang telah dibuatnya, yang kemudian dilanjutkan dengan penggambaran relief-reliefnya di atas kertas oleh F.C. Wilson dan Schonberg Mulder, dari tahun 1849 s/d tahun 1953.

Pada tahun 1873 monografi pertama tentang Borubudur diterbitkan oleh Museum Purbakala Leiden, Negeri Belanda. Pada tahun itu pula seorang ahli potret kenamaan, I. van Kinsbergen diberi tugas untuk memperbaharui potret-potret Borobudur. Karena sangat telitinya kerja I. van Kinsbergen (dia sendiri ikut membersihkan sudut-sudut candi), 200 relief yang selama ini terpendam dalam tanah ikut tersingkap.

Pada tahun 1885 kaki candi yang ditelan bumi itu “ditemukan” oleh J.W. Ijzerman. Ternyata di belakang kaki candi yang nampak masih ada lagi kaki candi lain yang dihiasi pahatan relief. Kaki yang tersembunyi ini diabadikan oleh Cephas selama setahun (1890-1891), yang untuk itu 12.500 meter kubik batu dipindahkan dan kemudian dikembalikan lagi ke tempatnya semula. Penemuan ini penting artinya, yang disebut “Kamadhatu” (lingkaran hawa nafsu) yang sebelumnya tersembunyi dari pandangan mata. Seratus enam puluh panel dalam lingkaran “Hawa Nafsu” itu menggambarkan ajaran Karma (Hukum sebab dan akibat setiap perbuatan baik dan buruk), sebagaimana tertera dalam kitab “Karma-vibhanga”.

Pada tahun 1834 Residen Kedu melakukan pemugaran secara tambal-sulam dan memerintahkan pembersihan lebih lanjut agar wajah candi kelihatan lebih cantik. Batu-batu yang berserakan di sekeliling candi disingkirkan ke kaki bukit, sedangkan stupa-stupanya dibenarkan letaknya.

Pada tahun 1844 stupa induknya diperbaiki, namun ia pun melakukan perbuatan yang merusak, yaitu :

  1. di atas candi Borobudur diberi bangunan bambu sebagai tempat para pembesar Belanda dan nyonya mereka minum teh dengan santai sambil menikmati panorama senja tatkala sang surya berpamitan dengan seisi bumi.
  2. tatkala seorang Raja Siam (Thailand) datang pada pertengahan abad ke 19, Residen Kedu menghadiahkan kepada Beliau delapan gerobak batu-batu candi Borobudur dan lima puluh relief, di samping lima patung Sang Buddha sendiri, dua patung singa penjaga candi, satu pancuran berwujud “Makara” (kepala gajah bertanduk kambing, bertelinga kerbau dengan singa mini di dalam moncongnya), sejumlah kepala “kala” (raksasa dan ‘dewa waktu’ dalam mitologi Jawa) dari pangkal tangga dan gapura, serta sebuah patung raksasa dari bukit sebelah Barat-Laut candi Borobudur.

Hampir saja pengrusakan elemen-elemen Borobudur itu makin menjadi-jadi, ketika para ahli di negeri Belanda mengusulkan agar relief-reliefnya dipindahkan saja ke Museum Leiden, mengingat kondisi candi yang semakin rusak. Untunglah gagasan itu ditentang oleh kalangan ahli sendiri, sehingga tidak jadi dilaksanakan.

Pada tahun 1900 setelah dokumentasi dan penelitian dianggap memadai, oleh Pemerintah Belanda dibentuk panitia khusus untuk pemugaran Borobudur yang diketuai oleh Dr. J.L.A. Brandes.

Seperti halnya operasi pertama pada zaman Raffles, kembali seorang opzir zeni, Letnan Ir. Th. van Erp memainkan peranan utama sebagai penyelamat candi Borobudur.

Ada tiga hal yang dibebankan kepada Ir. van Erp dalam usaha menyelamatkan Borobudur:

  1. menanggulangi bahaya runtuh dengan cara memperkokoh sudut-sudut bangunannya, menegakkan kembali dinding-dinding yang miring pada teras (tingkat) pertama, serta memperbaiki gapura, relung dan stupa, termasuk stupa induk.
  2. mengekalkan keadaan yang sudah diperbaiki itu dengan pengawasan yang ketat dan pemeliharaan yang cermat. Untuk itu saluran airnya perlu disempurnakan dengan jalan memperbaiki lantai lorong dan pancuran air.
  3. memperlihatkan bangunan candi sejelas-jelasnya, bersih dan utuh.

Seluruh pekerjaan pemugaran yang dimulai pada tahun 1907 baru selesai empat tahun kemudian dengan menelan biaya 100.000 gulden.

Ir. van Erp pun telah membuat satu “warning-system” (petunjuk pengaman), yakni lapisan beton pengaman di antara 2 buah batu pada bagian dinding yang paling miring di sebelah Barat, tangga Utara tingkat pertama. Bilamana sambungan itu patah, maka Borobudur berada dalam keadaan bahaya.

Pada bulan Januari 1926 dapat diketahui adanya kerusakan yang disengaja oleh turis asing yang ingin menyimpan tanda mata dari Borobudur. Peristiwa ini menjadi pendorong bagi penelitian yang lebih intensif terhadap batu-batu dan terutama relief-relief candi. Nyatanya banyak relief yang menampakkan tanda-tanda retak. Tangan jahil? Bukan! Setelah diamati dan dibanding-bandingkan kiri kanan, ternyata bukan karena tangan jahil, melainkan karena suhu yang sangat cepat berganti; dari panas yang menyengat kemudian disusul hujan terus-menerus. Ternyata dari 120 panel relief “Lalita Vistara” yang menceritakan riwayat Sang Buddha sejak direncanakan lahir di sorga Tusita sampai khotbahnya yang kesohor di Benares, ada 40 yang rusak.

Pada tahun 1929 dibentuk panitia baru untuk melakukan pengamatan dan pengamanan. Dari hasil penyelidikan panitia, diketahuilah penyebab kerusakan, yakni: korosi kimiawi, kerja mekanis dan kekuatan tekanan.

Korosi disebabkan oleh pengaruh iklim yang merusak batu-batu candi yang jelek kwalitasnya. Lapisan oker kuning yang dulunya dimaksudkan meratakan warna relief untuk keperluan pemotretan, ternyata berhasil melindungi batu-batu yang keras. Tetapi terhadap batu-batu yang lunak akibatnya jadi lain, yaitu pengelupasan. Cendawan dan lumut terang menambah korosi pula. Namun, sebab pokok korosi yang paling sadis adalah derasnya air yang merembes ke luar bangunan candi melalui celah-celah dan pori-pori batu-batuan candi itu sendiri.

Adapun kerusakan mekanis terutama disebabkan oleh tangan dan kaki manusia atau penyebab lainnya di luar candi.

Kerusakan lain ialah, karena tekanan bobot batu-batuan candi itu sendiri.

Pada tahun 1965 atas prakarsa Menteri P & K, Ny. Artati M. Sudirdjo S.H., maka untuk mencegah kerusakan yang lebih fatal, telah dilakukan pembongkaran atas dinding-dinding Utara dan Barat yang miring oleh Dr. R. Soekmono.

Pada tahun 1967 Dr. R. Soekmono ketika mengikuti Kongres Orientalis International di Ann Arbor (AS) minta perhatian kongres atas nasib Borobudur. Unesco tertarik pada nasib Borobudur dan berjanji untuk memberi bantuan.

Pada tahun 1968 Pemerintah RI membentuk Panitia Nasional Penyelamat Borobudur dan beberapa ahli luar negeri dihubungi, a.l.:

  1. Prof. C. Voute, ahli geologi kenamaan.
  2. Dr. G. Hyvert, ahli pengawetan patung dan relief
  3. Prof. Bernard Philipe Groslier, arkeolog Prancis kenamaan yang namanya tidak dapat dipisahkan dari penyelamatan candi Angkor di Kamboja.

Pada bulan Juni 1971 Panitia Pemugaran Borobudur dibentuk dengan diketuai oleh Prof. Ir. R. Roosseno didampingi oleh Dr. R. Soekmono. Pada tahun ini pula Dirjen Unesco, Rene Maheu datang ke Indonesia untuk menandatangani bantuan Unesco sebesar US $ 6 juta dari biaya pemugaran yang diperkirakan US $ 7,75 juta, (menurut perkiraan tahun 1975 biaya tersebut telah membubung sampai US $ 16 juta).

Pada tanggal 11 Agustus 1973 Borobudur mulai dipugar dengan mengikut-sertakan ahli-ahli dari Unesco, Lembaga Purbakala, Fak. Sastra UI, Dept. Geologi ITB dan Fak. Teknik & Pertanian UGM.

Menurut perkiraan, pemugaran Borobudur akan memakan waktu 8 tahun.

Keterangan relief-relief tentang riwayat Buddha Gautama menurut naskah “Lalita Vistara”.

Dapat dilihat di lorong pertama (bagian Rupadhatu) pada dinding sebelah dalam

Dari pintu Timur sampai ke pintu Selatan

  1. Sang Bodhisatva di sorga Tusita sedang menerima penghormatan dari para dewa dengan berbagai alat musik.
  2. Sang Bodhisatva memberitahukan para dewa tentang keinginannya turun ke dunia menjadi Buddha dan untuk memberi bimbingan kepada mereka yang telah tersesat dan menolong mereka ke Jalan Yang Benar.
  3. Seorang Brahmana mengajar para muridnya tentang kebijaksanaan duniawi dan memberitahukan kepada mereka bahwa dua belas tahun kemudian akan turun ke dunia se-Orang Buddha yang akan membebaskan umat manusia dari Samsara (lingkaran tumimbal-lahir).
  4. Para Pratyeka Buddha, setelah mendengar tentang akan turunnya Bodhisatva ke dunia terbang ke sorga untuk menyambut dan mengiringinya.
  5. Sang Bodhisatva mengajar para dewa tentang Dhamma.
  6. Sebelum Sang Bodhisatva turun ke dunia, terlebih dulu Beliau menyerahkan Mahkotanya (Tyara) kepada penggantinya, yaitu Bodhisatva Maitreya.
  7. Bodhisatva Maitreya mengajar Dharma kepada para dewa.
  8. Raja Suddhodana bersukia cita dengan permaisurinya, Ratu Maya Dewi, di istana Kapilavastu.
  9. Para bidadari mengunjungi Ratu Maya Dewi di istana.
  10. Para dewa mempersiapkan diri untuk mengiringi Sang Bodhisatva turun ke dunia.
  11. Dihormati untuk terakhir kali di sorga Tusita sebelum Sang Bodhisatva turun ke dunia.
  12. Di pavilyun Sri Garbha, Sang Bodhisatva duduk bermeditasi dan selanjutnya turun ke dunia diusung oleh para dewa.
  13. Ratu Maya Dewi, sewaktu tidur di istana, bermimpi seekor gajah putih memasuki perutnya dan kemudian Ratu menjadi hamil.
  14. Sang Ratu tidak usah kuatir karena Dewa Cakra melindunginya.
  15. Sang Ratu pergi ke taman Asoka untuk menemui Raja Suddhodana.
  16. Raja Suddhodana tiba di taman Asoka dengan menunggang gajah.
  17. Raja Suddhodana berjumpa dengan Sang Ratu di serambi. Sang Ratu menceritakan mimpinya dan bertanya tentang arti mimpi tersebut.
  18. Karena Raja Suddhodana tidak dapat menerangkan arti mimpi Sang Ratu, maka beliau minta pendapat dari seorang brahmana yang bernama Asita. Asita menerangkan bahwa Ratu akan hamil dan akan melahirkan seorang bayi laki-laki. Putera ini mempunyai bakat menjadi seorang pemimpin dunia.
  19. Raja Suddhodana gembira sekali mendengar ramalan tersebut dan memberikan hadiah yang berlimpah-limpah kepada Asita dan para brahmana lainnya.
  20. Para dewa yang mendengar berita yang menggembirakan ini membangun tiga buah istana untuk Ratu Maya Dewi.
  21. Para dewa telah membuat Ratu Maya Dewi serempak terlihat di tiga alam.
  22. Sebelum bayi dilahirkan, Ratu telah melakukan hal-hal mujizat : beliau dapat menyembuhkan orang-orang sakit dan orang-orang yang cacat badannya.
  23. Raja Suddhodana memberikan hadiah-hadiah kepada orang-orang miskin.
  24. Raja Suddhodana memberikan khotbah di hadapan para wanita.
  25. Satu hal yang aneh terjadi sewaktu Raja sedang bermeditasi : seekor anak gajah masuk ke istana dan memberi hormat kepada Raja.
  26. Persiapan untuk mengunjungi taman Lumbini.
  27. Ratu dengan kereta menuju ke taman Lumbini. Setelah tiba, kereta berhenti dan Ratu dengan gembira berjalan-jalan di taman.
  28. Di taman Lumbini dengan berdiri berpegangan pada cabang pohon Sal, Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki.
    Segera setelah dilahirkan, Sang Bayi dapat berjalan tujuh langkah dan di atas tiap tapak kaki muncul bunga teratai.
  29. Setelah Ratu meninggal dunia, Sang Pangeran diasuh oleh bibinya yang bernama Pajapati. Sang Pangeran diberi nama Siddharta.
  30. Pangeran Siddharta di pangkuan ibu tirinya.

Dari pintu Selatan sampai ke pintu Barat.

  1. Seorang Brahmana bernama Asita mengunjungi Pangeran Siddharta.
  2. Dewa-dewa dari alam Suddhavasa mengunjungi Pangeran Siddharta.
  3. Para penduduk yang kaya-kaya mempersembahkan hadiah-hadiah kepada Pangeran Siddharta.
  4. Pangeran Siddharta pergi ke vihara untuk mendapatkan pendidikan.
  5. Setibanya di vihara, gurunya pingsan melihat wajah Sang Pangeran yang demikian cemerlang.
  6. Sang Pangeran berhias dengan memakai berbagai macam permata.
  7. Para penduduk memberi hormat kepada Sang Pangeran.
  8. Pangeran Siddharta dan gurunya di ruang belajar.
  9. Pangeran Siddharta mengunjungi desa-desa untuk melihat sendiri penghidupan rakyatnya di desa.
  10. Pangeran Siddharta bermeditasi di bawah pohon jambu.
  11. Para sesepuh di istana Kapilavastu mendesak Pangeran Siddharta untuk menikah.
  12. Sang Pangeran minta para gadis dari Kapilavastu untuk datang ke istana. Pilihannya ternyata jatuh kepada Yasodhara. Untuk menghibur gadis-gadis lain yang kecewa, Sang Pangeran membagi-bagikan hadiah.
  13. Menurut kebiasaan pada zaman itu, sebelum upacara perkawinan dilaksanakan, terlebih dulu calon pengantin pria harus membuktikan kemampuannya secara fisik maupun mental. Oleh karena itu Sang Pangeran diharuskan mengambil bagian dalam satu sayembara.
  14. Devadatta, saudara sepupu dari Sang Pangeran, juga turut dalam sayembara tersebut. Ia harus berkelahi dengan seekor gajah yang besar. Gajah tersebut dibunuhnya dengan sekali pukul dan sekali tendang.
  15. Pada relief hanya terlihat roda kereta dan seorang prajurit.
    Pangeran Siddharta dengan duduk di kereta menyeret bangkai gajah itu dengan kaki kiri ke luar kota sejauh delapan yojana (1 yojana = 8 mil).
  16. Pangeran Siddharta dicoba kemurniannya dengan digoda wanita-wanita cantik.
  17. Tidak diketahui (mungkin relief sayembara menunggang kuda).
  18. Tidak diketahui (mungkin relief sayembara menggunakan pedang).
  19. Sayembara memanah batang pohon Tala. Hanya Pangeran Siddharta yang lulus dalam pertandingan ini; anak panahnya menembus batang pohon Tala dan menghilang di tanah.
  20. Pernikahan dari Pangeran Siddharta dengan Putri Yasodhara diberkahi.
  21. Puteri Yasodhara memasuki istana setelah menikah.
  22. Di istana, mempelai disambut dengan musik.
  23. Pangeran Siddharta mendapat petunjuk dari para dewa untuk meninggalkan istana.
  24. Untuk mencegah agar Pangeran Siddharta jangan meninggalkan istana, Raja Suddhodana memerintahkan untuk mendirikan istana-istana untuk Sang Pangeran dengan dilayani oleh wanita-wanita cantik.
  25. Pangeran Siddharta sedang dimanjakan oleh wanita-wanita.
  26. Pangeran Siddharta melihat seorang tua renta.
  27. Pangeran Siddharta melihat orang sakit keras.
  28. Pangeran Siddharta melihat orang mati.
  29. Pangeran Siddharta melihat seorang pertapa.
  30. Pangeran Siddharta mendapat impian buruk.

Dari pintu Barat sampai ke pintu Utara

  1. Pangeran Siddharta mohon diri dari ayahnya, Raja Suddhodana.
  2. Raja Suddhodana tidak memperkenankan Sang Pangeran pergi bertapa dan memerintahkan kepada wanita-wanita cantik untuk terus menghibur Sang Pangeran.
  3. Tengah malam wanita-wanita yang menghibur Pangeran Siddharta telah tertidur. Lalu Pangeran Siddharta yang merasa jemu sekali, membulatkan tekad untuk meninggalkan istana.
  4. Pangeran Siddharta memanggil kusirnya yang bernama Channa dan memerintahkan untuk menyiapkan kudanya, Kanthaka.
  5. Pangeran Siddharta melakukan perjalanan jauh untuk mulai bertapa.
  6. Sampai di tempat tujuannya, Pangeran Siddharta mengucapkan selamat berpisah kepada para dewa yang mengiringinya.
  7. Pangeran Siddharta memotong rambutnya.
  8. Pangeran Siddharta menukar pakaiannya dengan jubah seorang pertapa.
  9. Para dewa memberi hormat kepada Pangeran Siddharta.
  10. Pangeran Siddharta tiba di pertapaan Padmapani.
  11. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat seorang pertapa bernama Uddaka Ramaputra.
  12. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat seorang pertapa lain yang bernama Alara Kalama.
  13. Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat Raja Bimbisara di Rajagaha.
  14. Raja Bimbisara berkunjung ke tempat Pangeran Siddharta.
  15. Pangeran Siddharta berkunjung ke Gunung Gaya dan bertemu dengan para pertapa dari tempat tersebut.
  16. Para pertapa tersebut di atas berkunjung kepada Pangeran Siddharta.
  17. Pangeran Siddharta berbincang-bincang dengan para pertapa tentang persoalan “Pañña” (Kebijaksanaan). Karena berselisih pendapat, para pertapa meninggalkan Pangeran Siddharta.
  18. lbunda Pangeran Siddharta, yaitu Ratu Maya Dewi almarhumah, turun ke dunia dari sorga untuk membujuk anaknya mengakhiri penyiksaan diri dan makan minum seperti biasa lagi agar dapat memulihkan kembali kekuatan tubuhnya.
  19. Para dewa mendesak Pangeran Siddharta untuk kembali makan dan minum.
  20. Pangeran Siddharta mengajar para dewa.
  21. Seorang wanita bernama Sujata mempersembahkan bubur kepada Pangeran Siddharta.
  22. Pangeran Siddharta mempersiapkan diri untuk mandi.
  23. Pangeran Siddharta menukar pakaian.
  24. Para wanita dari Uruvela mempersembahkan makanan kepada Pangeran Siddharta.
  25. Pangeran Siddharta pergi ke tepi sungai Nairanjara dengan membawa jubahnya yang sudah bekas pakai.
  26. Pangeran Siddharta membuang jubahnya ke sungai.
  27. Jubah tersebut diterima oleh Raja Naga Mucilinda.
  28. Pangeran Siddharta menerima makanan dari Mucilinda.
  29. Pangeran Siddharta memberi berkah kepada Mucilinda.
  30. Pangeran Siddharta minta diberi rumput yang empuk untuk duduk.

Dari pintu Utara sampai pintu Timur

  1. Pangeran Siddharta dalam perjalanan ke Buddha Gaya.
  2. Pohon Bodhi diberi penghiasan.
  3. Pangeran Siddharta bermeditasi di bawah pohon Bodhi.
  4. Mara, iblis yang jahat, datang mengganggu Pangeran Siddharta dan mengancam untuk membunuhnya.
  5. Mara mengirim anak-anaknya berupa wanita-wanita yang cantik sekali untuk menggoda Pangeran Siddharta.
  6. Mara mencoba membujuk Pangeran Siddharta dengan membisikkan godaan di telinganya.
  7. Godaan-godaan oleh Mara dengan memakai kekuatan gaib dan wanita-wanita cantik. Sang Pangeran duduk dengan sikap Bhumisparsa-Mudra.
    (simbol dari tekad yang bulat).
  8. Para dewa membasuh Pangeran Siddharta dengan air suci.
  9. Pangeran Siddharta berhasil mencapai Penerangan Agung; Mara tidak berhasil menggagalkan usaha Pangeran Siddharta. Sekarang Pangeran Siddharta menjadi Buddha (Beliau memakai sikap Abaya-Mudra = Jangan Takut).
  10. Buddha Gautama mendapat tempat duduk di taman Rusa.
  11. Raja Naga Mucilinda menjumpai Buddha Gautama.
  12. Para pertapa dari Bodhi-manda minta diberi berkah oleh Buddha Gautama.
  13. Buddha Gautama mengajar cara melakukan Samadhi (Beliau memakai Dhyana-Mudra = Sedang Bermeditasi).
  14. Para raja mempersembahkan makanan kepada Buddha Gautama dan mereka diberi pelajaran tentang “Bermurah hati”. (Beliau memakai Vara-Mudra = Memberi Anugerah).
  15. Buddha Gautama sedang memberi pelajaran Dhamma.
  16. Buddha Gautama berkunjung ke kota Savatthi untuk mengajar Dhamma.
  17. Buddha Gautama berkunjung ke Uruvela untuk mengajar Dhamma.
  18. Buddha Gautama berkunjung ke bekas guru-Nya Uddaka Ramaputra.
  19. Buddha Gautama berkunjung ke Raja Bimbisara di Rajagaha.
  20. Buddha Gautama berkunjung ke para pertapa.
  21. Buddha Gautama bertemu dengan para dewa.
  22. Buddha Gautama mengunjungi sebuah kota dan dijamu makan.
  23. Buddha Gautama berkunjung ke bekas guru-Nya Alara Kalama.
  24. Buddha Gautama berkunjung ke kota Maghada dan disambut dengan upacara yang meriah.
  25. Dalam perjalanan ke Benares, Buddha Gautama menyeberangi sungai Gangga dengan terbang di atas air.
    (Tukang perahu penyeberang tidak mau menyeberangkan Buddha Gautama tanpa pembayaran lebih dulu. Sebelum tukang perahu mengetahui apa yang terjadi, Buddha Gautama sudah ada di seberang sungai).
  26. Buddha Gautama sedang dijamu.
  27. Di sebuah bukit bernama Gaya, Buddha Gautama berjumpa kembali dengan para pertapa yang dulu telah meninggalkannya. Sekarang mereka menjadi murid Buddha Gautama.
  28. Buddha Gautama diberi hormat oleh para pertapa lain.
  29. Buddha Gautama diperciki air suci oleh para dewa.
  30. Buddha Gautama memberi khotbah di taman Rusa, dekat Benares.

Asal-Usul Tangkuban Perahu

Filed under: Uncategorized — Tresia Sahagana'onesibua' @ 2:48 pm

Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu

Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.

Beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu yang hanya mempunyai seorang putri. Putri itu bernama Dayang Sumbi. Dia sangat cantik dan cerdas, sayangnya dia sangat manja. Pada suatu hari saat sedang menenun di beranda istana, Dayang Sumbi merasa lemas dan pusing. Dia menjatuhkan pintalan benangnya ke lantai berkali-kali. Saat pintalannya jatuh untuk kesekian kalinya Dayang Sumbi menjadi marah lalu bersumpah, dia akan menikahi siapapun yang mau mengambilkan pintalannya itu. Tepat setelah kata-kata sumpah itu diucapkan, datang seekor anjing sakti yang bernama Tumang dan menyerahkan pintalan itu ke tangan Dayang Sumbi. Maka mau tak mau, sesuai dengan sumpahnya, Dayang Sumbi harus menikahi Anjing tersebut.

Dayang Sumbi dan Tumang hidup berbahagia hingga mereka dikaruniai seorang anak yang berupa anak manusia tapi memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Anak ini diberi nama Sangkuriang. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring se lalu ditemani bermain oleh seekor anjing yang bernama Tumang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa.

Pada suatu hari Dayang Sumbi menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu rusa untuk keperluan suatu pesta. Setelah beberapa lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang merasa putus asa, tapi dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Maka dengan sangat terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya di rumah dia menyerahkan daging Tumang pada ibunya. dayanng Sumbi yang mengira daging itu adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya.
Segera setelah pesta usai Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan bertanya pada pada anaknya dimana Tumang berada. Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapa akhirnya dia mengatakan apa yang telah terjadi pada ibunya. Dayang Sumbi menjadi sangat murka, dalam kemarahannya dia memukul Sangkuriang hingga pingsan tepat di keningnya. Atas perbuatannya itu Dayang Sumbi diusir keluar dari kerajaan oleh ayahnya. Untungnya Sangkuriang sadar kembali tapi pukulan ibunya meninggalkan bekas luka yang sangat lebar di keningnya.Setelah dewasa, Sangkuriang pun pergi mengembara untuk mengetahui keadaan dunia luar.

Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik. Segera saja dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Wanita itu adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling mengenali satu sama lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang hati. Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang mengelus rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di dahi Sangkuriang, akhirnya dia menyadari bahwa dia hampir menikahi putranya sendiri. Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Setelah berpikir keras dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan syarat perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang. Syaratnya adalah: Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang bisa menutupi seluruh bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang mulai bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Sangkuriang memberinya suatu kekuatan aneh. Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan yang dia dapat dari ayahnya untuk memanggil jin-jin dan membantunya. Dengan lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air. Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang menebang sebatang pohon besar untuk membuat sebuah perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia berdoa pada dewa-dewa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat datangnya pagi.

Ayam jantan berkokok, matahari terbit lebih cepat dari biasanya dan Sangkuriang menyadari bahwa dia telah ditipu. Dengan sangat marah dia mengutuk Dayang Sumbi dan menendang perahu buatannya yang hampir jadi ke tengah hutan. Perahu itu berada disana dalam keadaan terbalik, dan membentuk Gunung Tangkuban Perahu(perahu yang menelungkub). Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul pohon sisa dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Bukit Tunggul. Bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh bukit dipenuhi air dan membentuk sebuah danau dimana Sangkuriang dan Dayang Sumbi menenggelamkan diri dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini.

Juli 28, 2009

Hello world!

Filed under: Uncategorized — Tresia Sahagana'onesibua' @ 10:29 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog di WordPress.com.